Jika bumi yang kita tinggali ini diibaratkan sebagai sebuah kanvas putih kosong, maka lukisannya berisi bagaimana cara manusia menjalani hidupnya. Manusia, sebagai makhluk yang memiliki akal adalah cat warna yang akan kita gunakan untuk melukis. Dan apa yang kita sebut dengan “kebudayaan” adalah segala coretan yang menghiasi kanvas tersebut.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “buddhi” (budia atau akal) yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya dan manusia tidak dapat dipisahkan. Tidak ada manusia berarti tidak ada budaya dan kebudayaan. Dan itulah alasan mengapa planet yang kita tinggali ini menjadi istimewa.

Karena kehidupan terus berjalan dan manusia selalu menggunakan akalnya untuk terus hidup, maka “budaya” tadi lama-kelamaan berkembang menjadi “kebudayaan”. Istilah “kebudayaan” merupakan bentuk jamak dari “Buddhi” atau budaya. Kebudayaan mencakup istilah yang sangat luas. Ia mengandung pandangan hidup, nilai dan norma, cara berperilaku, dan segala hal lain yang menyangkut “cara manusia menjalani kehidupan.”

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan memiliki 7 unsur yang disebut cultural universal. Ia meliputi bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi, sistem religi, dan kesenian. Disebut universal karena setiap kebudayaan pasti memiliki 7 unsur yang kompleks tersebut.

Indonesia sebagai bagian dari bumi, merupakan salah satu ruang dalam kertas kanvas tersebut yang dihiasi cat yang beragam warna. Dahulu, Indonesia dikenal dengan nama “Nusantara”. Nusantara berasal dari 2 kata yakni “Nusa” yang berarti pulau dan “Antara“ yang berarti luar atau seberang. Sehingga Nusantara dapat kita maknai sebagai satu kesatuan wilayah kepulauan yang kini kita sebut dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dan inilah alasan pertama mengapa Indonesia kaya akan budaya.

Negara yang berbentuk kepulauan, memisahkan penduduk di satu pulau dengan pulau lainnya. Tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut menimbulkan perbedaan pandangan dan cara hidup masyarakat. Bahasa penduduk di pulau Sumatera yang berakar dari Bahasa Melayu tentu akan berbeda dengan Bahasa penduduk di pulau Jawa yang berbahasa Jawa, walau pada dasarnya masih berasal dari rumpun Bahasa yang sama yaitu  Rumpun Bahasa Austronesia. Sebab bentuk kepulauan tadi memisahkan penduduk untuk saling berinteraksi, sehingga alat komunikasi atau bahasa yang digunakan pun berbeda. Dan ini adalah hal unik yang kita temukan di Bumi Nusantara kita.

Selain itu, dengan luasnya wilayah Nusantara dan perbedaan bentang alam, membuat masyarakat pun memiliki hasil kebudayaan yang berbeda. Manusia pada dasarnya akan memanfaatkan apa yang ada di alam sekitarnya. Dari mulai hutan, pegunungan, hingga laut. Perbedaan bentang alam antara satu wilayah dengan wilayah lain tentu akan menghasilkan kebudayaan yang berbeda pula. Sebagai contoh, masyarakat di Papua akan memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan yang ada disana untuk diolah sebagai pakaian dan rumah Honai khasnya. Berbeda dengan masyarakat di Kalimantan yang memanfaatkan sungai sebagai pasar terapung untuk berdagang di atasnya, ataupun Suku Bajo yang menghabiskan diri di lautan dan mencari penghidupan darinya.

Menurut sejarah, pada awalnya manusia menjadikan “alam” sebagai tantangan yang harus ditaklukan. Manusia juga menyadari bahwa mereka membutuhkan makhluk lain untuk hidup. Manusia mulai sadar bahwa dirinya adalah makhluk sosial. Sehingga dilakukan pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, yang kini kita kenal dengan sistem sistem sosial dan kekerabatan seperti patriarki (sistem kekerabatan yang menganut garis keturunan ayah) dan matriarki (sistem kekerabatan yang menganut garis keturunan ibu). Hal unik lainnya. Manusia akhirnya menyadari bahwa alam mempunyai kekuatan ghaib yang lebih kuat dari mereka. Sehingga alam harus diperlakukan dengan baik hingga diberi persembahan, yang kemudian munculah kepercayaan seperti animisme (kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang dianggap punya kekuatan) atau dinamisme (kepercayaan terhadap benda ghaib yang juga dianggap punya kekuatan).

Selain faktor internal, ada pula factor eksternal yang menyebabkan kebudayaan Nusantara menjadi beragam, yaitu letak geografis Nusantara yangt diapit oleh 2 Benua (Benua Asia dan Australia) dan juga diapit oleh 2 Samudera (Samudera Hindia dan Pasifik) menjadikan Nusantara sebagai jalur lalu lintas perdagangan dunia. Dahulu, banyak penduduk asing yang singgah. Banyak pula yang tak sekadar singgah melainkan memutuskan untuk menetap di Nusantara, seperti dengan jalan pernikahan. Sehingga budaya Nusantara semakin beragam. Sebagai contoh, masyarakat yang dulunya memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme, kini telah percaya pada agama-agama, diantaranya Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu sebagai agama yang resmi diakui di Indonesia.

Keragaman-keragaman budaya tersebut adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, sehingga harus kita apresiasi, jaga, dan lestarikan keberadaannya. Saat ini pula , sudah banyak kebudayaan Indonesia yang terkenal di kancah dunia.

 

Berikut adalah beberapa contohnya.

  1. Bambu Angklung, alat musik yang berasal dari Jawa Barat ini mendapat pengakuan dari UNESCO. Bahkan mendapat penghargaan dan dinobatkan sebagai bagian dari World Heritage.
  2. Seni Wayang, yang sudah dimasukkan dalam UNESCO sejak tahun 2003. Banyak para wisatawan yang tertarik mencoba dan mempelajari seni wayang ini.
  3. Batik, yang merupakan kain yang meliputi berbagai corak menawan dan menarik, juga ikut masuk ke dalam daftar UNESCO. Kain ini seringkali menjadi souvenir bagi wisatawan asing, sehingga mereka memberi apresiasi penuh akibat setiap keindahan coraknya. Bahkan, pada setiap tanggal 2 Mei diperingati Hari Batik Nasional. Batik juga wajib digunakan di sekolah-sekolah maupun instansi lainnya di Indonesia.
  4. Gamelan, alat musik ansambel yang menghasilkan nada yang indah ini, ternyata populer di luar Nusantara. Sayangnya, minat kalangan muda-mudi Indonesia berkurang terhadap alat musik ini. Sebagai contoh, di New Zealand School of Music, gamelan ini bahkan dijadikan kurikulum tetap disana. Di Amerika Serikat pun dipajang satu set gamelan di salah satu ruang pameran museum musik.
  5. Tari Saman, yakni tarian yang menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan lainnya, dan biasa dibawakan oleh banyak orang, juga diakui masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO. Biasanya tarian ini digelarkan untuk merayakan peristiwa penting dalam adat suatu daerah setempat.

Serta masih banyak lagi kebudayaan Nusantara yang tidak mungkin saya tuliskan  satu persatu karena memang sungguh sangat banyak dan beragam. Keragaman budaya tersebut adalah keindahan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga harus disyukuri dan tidak boleh dijadikan sebagai alasan kita menjadi terpecah belah. Keragaman budaya tersebut hendaknya menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki apresiasi tinggi terhadap segala hasil Buddhi atau akal manusia. Karena akal manusia juga merupakan ciptaan Tuhan. Tanamkan pada fikiran kita, bahwa berbeda itu indah. Berbeda itu kaya. Dan tidak ada kebudayaan satu yang lebih baik dari budaya lainnya. Karena semua budaya itu sama indahnya. Seperti yang kita ketahui, bahwa pelangi indah bukan karena ia terdiri satu warna yang menonjol, melainkan indah karena ia memiliki beragam warna-warna gradasi yang tersusun menjadi satu kesatuan yang elok dipandang mata.

Selain itu, berkembangnya zaman dan era globalisasi jangan sampai menjadi penyebab tergesernya budaya lokal kita dengan budaya asing. Kita, sebagai manusia-manusia yang tinggal di NKRI tentunya berkewajiban melindungi budaya tersebut dengan berbagai cara, diantaranya :

  1. Mengadakan dan mengikuti pendidikan kebudayaan, melalui pelajaran seni budaya, ekstrakulikuler kesenian daerah, dan lain sebagainya.
  2. Mengenal budaya daerah sendiri, dengan cara menonton pertunjukkan kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional baik di TV, media sosial, maupun secara langsung di tempat pertunjukkan.
  3. Berperan dalam pameran kebudayaan maupun membuat konten promosi melalui poster, artikel, social media serta media lainnya.
  4. Menyaring budaya asing yang masuk sehingga budaya daerah dan budaya nasional tidak rusak dan tetap lestari.

Dengan melakukan cara-cara di atas, berarti kita telah turut serta dalam mengapresiasi, menjaga dan melestarikan kebudayaan Nusantara. Sehingga keindahan tersebut tidak hanya berhenti sampai pada generasi kita saja, melainkian terus terwaris kepada anak-cucu kita di masa mendatang.

 

Penulis: Anisa Rahmawati

Editor: Tim Eskul Persisma SMAN 5 Bandarlampung

INDONESIAKU KAYA, INDONESIAKU INDAH
YouTube1
YouTube